Biografi – MADANI TEBUIRENG BINTAN http://madanitebuireng.ponpes.id Pesantren Terkemuka Penghasil Insan Pemimpin Berakhlak Karimah Tue, 29 Jun 2021 18:23:49 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.7.2 http://madanitebuireng.ponpes.id/wp-content/uploads/2021/06/cropped-48a5d3bc3160f410ec85cd6fba3d8b6a-32x32.png Biografi – MADANI TEBUIRENG BINTAN http://madanitebuireng.ponpes.id 32 32 Kedahsyatan Sabar atas Doa yang Belum Diijabah Allah http://madanitebuireng.ponpes.id/kedahsyatan-sabar-atas-doa-yang-belum-diijabah-allah/ http://madanitebuireng.ponpes.id/kedahsyatan-sabar-atas-doa-yang-belum-diijabah-allah/#respond Tue, 29 Jun 2021 18:06:28 +0000 http://ukmweb.my.id/demo/madanitebuireng/?p=285 Oleh: Silmi Adawiyah* Tidak semua doa diijabah oleh Allah dalam hitungan jam atau hari. Ada beberapa permintaan yang sengaja Allah ijabahkan menurut waktu terbaik-Nya dan jawaban terbaik-Nya, bukan menurut waktu terbaik manusia dan jawaban terbaik menurut manusia pula. Posisi  kita sebagai hamba, tidak boleh mamaksa atau merasa kecewa ketika doa yang dipanjatkan belum diijabah oleh-Nya.… Selengkapnya »Kedahsyatan Sabar atas Doa yang Belum Diijabah Allah

Artikel Kedahsyatan Sabar atas Doa yang Belum Diijabah Allah pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Oleh: Silmi Adawiyah*

Tidak semua doa diijabah oleh Allah dalam hitungan jam atau hari. Ada beberapa permintaan yang sengaja Allah ijabahkan menurut waktu terbaik-Nya dan jawaban terbaik-Nya, bukan menurut waktu terbaik manusia dan jawaban terbaik menurut manusia pula. Posisi  kita sebagai hamba, tidak boleh mamaksa atau merasa kecewa ketika doa yang dipanjatkan belum diijabah oleh-Nya.

Orang yang doanya tidak diijabah oleh-Nya tidak bisa dijadikan standart nasional bahwa dirinya bukanlah orang saleh. Jika ia bersabar dan menyadari akan dosa-dosa yang diperbuat, bisa jadi ia adalah orang yang lebih baik daripada orang yang doanya diijabah oleh-Nya. begitu pula dengan orang yang belum diijabah doanya, lantas ia bersabar dan menyadari bahwa Allah adalah dzat yang Maha Mengetahui, Allah sengaja tidak memberi karena Allah mengerti ini yang terbaik. Potret orang yang seperti itu yang disebutkan sebagai orang yang lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah daripada orang yang doanya diijabah oleh-Nya.

Dalam kitab Shaidul Khatir, karya Imam Ibn Al Jauzi disebutkan:

وهناك أعلى من هؤلاء يسألون فلا يجابون وهم بالمنع راضون

“Ada yang lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah daripada orang yang doanya selalu maqbul, yaitu orang yang kalau doanya belum diijabah, ia berkata “aku yang pendosa ini memang tak layak diijabah” atau berkata “mungkin yag terbaik bagiku adalah tak diberi.”

Kedahsyatan tersebut tentu tidak dapat diraih oleh seseorang tanpa disertai oleh kesabaran dan iman yang kuat. ketika doanya belum dijawab oleh-Nya, sosok yang tidak sabar tentu akan mengambil jalan pintas yang terbaik menurut dirinya. Begitupun dengan orang yang goyah imanya, ia belum pasti bisa menerima kenyataan dalam hidupnya ketika doa yang dipanjatkan sekian lamanya belum diijabah juga. Namun orang yang bersabar dan beriman yang kuat, ia mengerti dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Ia sadar betul jika apa yang ada dan apa yang terjadi itu benar-benar pilihan terbaik-Nya. Bagaimana ia bisa menolaknya, jika itu Allah yang pilihkan?

Sosok yang disebutkan bahwa dirinya lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dibandingkan orang yang doanya selalu diijabah oleh-Nya di atas merupakan sosok istimewa yang benar-benar meyakini dan mengaplikasan firman Allah dalam QS al Baqaraha ayat 216 di abwah ini:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pembahasan di atas menghidupkan semangat untuk terus berdoa kepada-Nya, entah kapan diijabah oleh-Nya. Berdoa itu ibadah, juga mendapatkan pahala. Jika doa yang dipanjatkan terus menerus belum juga menjadi nyata, bersabarlah dan terus berdoa. Sebab orang yang bersabar ketika doanya belum diijabah lantas menyadari akan dosa dan takdir terbaik menurut-Nya, itu lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang yang doanya diijabah langsung oleh-Nya.

Artikel Kedahsyatan Sabar atas Doa yang Belum Diijabah Allah pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/kedahsyatan-sabar-atas-doa-yang-belum-diijabah-allah/feed/ 0
Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari http://madanitebuireng.ponpes.id/kh-m-hasyim-asyari/ http://madanitebuireng.ponpes.id/kh-m-hasyim-asyari/#respond Tue, 29 Jun 2021 18:03:05 +0000 http://ukmweb.my.id/demo/madanitebuireng/?p=275 Biografi KH. Hasyim Asy’ari KH. Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim atau yang populer dengan nama Pangeran Benawa bin Abdul Rahman yang juga dikenal dengan julukan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yakin yang populer… Selengkapnya »Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari

Artikel Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Biografi KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim atau yang populer dengan nama Pangeran Benawa bin Abdul Rahman yang juga dikenal dengan julukan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yakin yang populer dengan sebutan Sunan Giri. Sementara dari jalur ibu adalah Muhammad Hasyim binti Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabbar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benawa bin Jaka Tingkir atau juga dikenal dengan nama Mas Karebet bin Lembu Peteng (Prabu Brawijaya VI). Penyebutan pertama menunjuk pada silsilah keturunan dari jalur bapak, sedangkan yang kedua dari jalur ibu.

Ditilik dari dua silsilah diatas, Kiai Hasyim mewakili dua trah sekaligus, yaitu bangawan jawa dan elit agama (Islam). Dari jalur ayah, bertemu langsung dengan bangsawan muslim Jawa (Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir) dan sekaligus elit agama Jawa (Sunan Giri). Sementara dari jalur ibu, masih keturunan langsung Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berlatar belakang bangsawan Hindu Jawa.

Kiai Hasyim dilahirkan dari pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah pada hari Selasa kliwon tanggal 14 Februari tahun 1871 M atau bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah tahun 1287 H. Tempat kelahiran beliau berada disekitar 2 kilometer ke arah utara dari kota Jombang, tepatnya di Pesantren Gedang. Gedang sendiri merupakan salah satu dusun yang terletak di desa Tambakrejo kecamatan Jombang.

Sejak masa kanak-kanak, Kiai Hasyim hidup dalam lingkungan Pesantren Muslim tradisional Gedang. Keluarga besarnya bukan saja pengelola pesantren, tetapi juga pendiri pesantren yang masih cukup populer hingga saat ini. Ayah Kiai Hasyim (Kiai Asy’ari) merupakan pendiri Pesantren Keras (Jombang). Sedangkan kakeknya dari jalur ibu (Kiai Utsman) dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Gedang yang pernah menjadi pusat perhatian terutama dari santri-santri Jawa pada akhir abad ke-19. Sementara kakek ibunya yang bernama Kiai Sihah dikenal luas sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tambak Beras Jombang.

Pada umur lima tahun Kiai Hasyim berpindah dari Gedang ke desa Keras, sebuah desa di sebelah selatan kota Jombang karena mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun pesantren baru. Di sini, Kiai Hasyim menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun, sebelum akhirnya, meninggalkan keras dan menjelajahi berbagai pesantren ternama saat itu hingga ke Makkah.

Pada usianya yang ke-21, Kiai Hasyim menikah dengan Nafisah, salah seorang putri Kiai Ya’qub (Siwalan Panji, Sidoarjo). Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M/1308 H. Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Makkah guna menunaikan ibadah haji. Bersama istrinya, Nafisah, Kiai Hasyim kemudian melanjutkan tinggal di Makkah untuk menuntut ilmu. Tujuh bulan kemudian, Nafisah menninggal dunia setelah melahirkan seorang putra bernama Abdullah. Empat puluh hari kemudian, Abdullah menyusul ibu ke alam baka. Kematian dua orang yang sangat dicintainya itu, membuat Kiai Hasyim sangat terpukul. Kiai Hasyim akhirnya memutuskan tidak berlama-lama di Tanah Suci dan kembali ke Indonesia setahun kemudian.

Setelah lama menduda, Kiai Hasyim menikah lagi dengan seorang gadis anak Kiai Romli dari desa Karangkates (Kediri) bernama Khadijah. Pernikahannya dilakukan sekembalinya dari Makkah pada tahun 1899 M/1325 H. Pernikahannya dengan istri kedua juga tidak bertahan lama, karena dua tahun kemudian (1901), Khadijah meninggal.

Untuk ketiga kalinya, Kiai Hasyim menikah lagi dengan perempuan nama Nafiqah, anak Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dan mendapatkan sepuluh orang anak, yaitu: Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurah, dan Muhammad Yusuf. Perkawinan Kiai Hasyim dengan Nafiqah juga berhenti di tengah jalan, karena Nafiqah meninggal dunia pada tahun 1920 M.

Sepeninggal Nafiqah, Kiai Hasyim memutuskan menikah lagi dengan Masrurah, putri Kiai Hasan yang juga pengasuh Pesantren Kapurejo, pagu (Kediri). Dari hasil perkawinan keempatnya ini, Kiai Hasyim memiliki empat orang anak: Abdul Qadir, Fatimah, Khadijah dan Muhammad Ya’qub. Perkawinan dengan Masrurah ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hsyim hingga akhir hayatnya.

Riwayat Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari

Kiai Hasyim dikenal sebagai tokoh yang haus pengetahuan agama (islam). Untuk mengobati kehausannya itu, Kiai Hasyim pergi ke berbagai pondok pesantren terkenal di Jawa Timur saat itu. Tidak hanya itu, Kiai Hasyim juga menghabiskan waktu cukup lama untuk mendalami islam di tanah suci (Makkah dan Madinah). Dapat dikatakan, Kiai Hasyim termasuk dari sekian santri yang benar-benar secara serius menerapkan falsafah Jawa, “Luru ilmu kanti lelaku (mencari ilmu adalah dengan berkelana) atau sambi kelana”

Karena berlatar belakang keluarga pesantren, Kiai Hasyim secara serius di didik dan dibimbing mendalami pengetahuan islam oleh ayahnya sendiri dalam jangka yang cukup lama mulai dari anak-anak hingga berumur lima belas tahun. Melalu ayahnya, Kiai Hasyim mulai mengenal dan mendalami Tauhid, Tafsir, Hadith, Bahasa Arab dan bidang kajian islam lainnya. Dalam bimbingan ayahnya, kecerdasan Kiai Hasyim cukup menonjol. Belum genap berumur 13 tahun, Kiai Hasyim telah mampu menguasai berbagai bidang kajian islam dan dipercaya membantu ayahnya mengajar santri yang lebih senior.

Belum puas atas pengetahuan yang didapatkan dari ayahnya, Kiai Hasyim mulai menjelajahi beberapa pesantren. Mula-mula, Kiai Hasyim belajar di pesantren Wonokoyo (Probolinggo), lalu berpindah ke pesantren Langitan (Tuban). Merasa belum cukup, Kiai Hasyim melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pesantren Tenggilis (Surabaya), dan kemudian berpindah ke Pesantren Kademangan (Bangkalan), yang saat itu diasuh oleh Kiai Kholil. Setelah dari pesantren Kiai Kholil, Kiai Hasyim melanjutkan di pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo) yang diasuh oleh Kiai Ya’kub dipandang sebagai dua tokoh penting yang berkontribusi membentuk kapasitas intelektual Kiai Hasyim. Selama tiga tahun Kiai Hasyim mendalami berbagai bidang kajian islam, terutama tata bahasa arab, sastra, fiqh dan tasawuf kepada KiaivKholil. Sementara, di bawah bimbingan Kiai Ya’kub, Kiai Hasyim berhasil mendalami Tauhid, fiqh, Adab, Tafsie dan Hadith.

????  Ubadah bin Shamit, Hakim Pertama di Palestina

Atas nasihat Kiai Ya’kub, Kiai Hasyim akhirnya meninggalkan tanah air untuk berguru pada ulama-ulama terkenal di Makkah sambal menunaikan ibadah haji untuk kali kedua. Di Makkah, Kiai Hasyim berguru pada syaikh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin  Hashim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attas, Syaikh Sa’id al-Yamani, Sayyid Alawi bin Ahmad al-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Syaikh Salih Bafadal, dan Syaikh Sultan Hasim Dagastana, Syaikh Shuayb bin Abd al-Rahman, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Rahmatullah, Sayyid Alwi al-Saqqaf, Sayyid Abu Bakr Shata al-Dimyati, dan Sayyid Husayn al-Habshi yang saat itu menjadi multi di Makkah. Selain itu, Kiai Hasyim juga menimba pengetahuan dari Syaikh Ahmad Khatib Minankabawi, Syaikh Nawawi al-Bnatani dan Syaikh Mahfuz al-Tirmisi. Tiga nama yang disebut terakhir (Khatib, Nawawi dan Mahfuz) adalah guru besar di Makkah saat itu yang juga memberikan pengaruh signifikan dalam pembentukan intelektual Kiai Hasyim di masa selanjutnya.

Presatasi belajar Kiai Hasyim yang menonjol, membuatnya kemudian juga mmperoleh kepercaaan untuk mengajar di Masjid al-Haram. Beberapa ulama terkenal dari berbagai negara tercatat pernah belajar kepadanya. Di antaranya ialah Syaikh Sa’d  Allah al-Maymani (mufti di Bombay, India), Syaikh Umar Hamdan (ahli hadith di Makkah), al-Shihan Ahmad bin Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahhanb Chasbullah (Tambakberas, Jombang), K. H. R Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH. Saleh (Tayu).

Seperti disinggung di atas, Kiai Hasyim pernah mendapatkan bimbingan langsung dari Syaikh Khatib al-Minankabawi dan mengikuti halaqah-halaqah yang di gelar oleh gurunya tersebut. Beberapa sisi tertentu dari pandangan Kiai Hasyim, khususnya mengenai tarekat, diduga kuat juga dipengaruhi oleh pemikiran kritisnya gurunya itu, meskipun pada sisi yang lain Kiai Hasyim berbeda dengannya. Dialektika intelektual antara guru dan murid (Syaikh Khatib Kiai Hasyim) ini sangat menarik.

Sejak masih di Makkah, Kiai Hasyim sudah memiliki ketertarikan tersendiri dengan tarekat. Bahkan , Kiai Hasyim juga sempat mempelajari dan mendapat ijazah tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah melalui salah melalui salah satu gurunya (Syaikh Mahfuz).

Karya-Karya KH. Hasyim Asy’ari

Adapun di antara beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari yang masih bisa ditemui dan menjadi kitab wajib untuk dipelajari di pesantren-pesanttren Nusantara sampai sekarang antara lain:[2]

  1. At-Tibyan fi al-Nahy’an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan

Kitab ini selesai ditulis pada hari Senin, 20 Syawal 1260 H dan kemudian diterbitkan oleh Muktabah al-Turats al-Islami, Pesantren Tebuireng. Kitab tersebut berisi penjelasan mengenai pentingnya membangun persaudaraan di tengah perbedaan serta memberikan penjelasan akan bahayanya memutus tali persaudaraan atau silatuhrami.

  1. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama

Kitab ini berisikan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Terutama berkaitan dengan NU. Dalam kitab tersebut, KH. Hasyim Asy’ari menguntip beberapa ayat dan hadits yang menjadi landasannya dalam mendirikan NU. Bagi penggerak-penggerak NU, kitab tersebut barangkali dapat dikatakan sebagai bacaan wajib mereka.

  1. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah

Dalam kitab ini, KH. Hasyim Asy’ari tidak sekedar menjelaskan pemikiran empat imam madzhab, yakni Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Ahmad bin Hanbal. Namun, ia juga memaparkan alasan-alasan kenapa pemikiran di antara keempat imam itu patut kita jadikan rujukan.

  1. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama

Sebagaimana judulnya, kitab ini berisi empat puluh hadits pilihan yang sangat tepat dijadikan pedoman oleh warga NU. Hadits yang dipilih oleh KH. Hasyim Asy’ari terutama berkaitan dengan hadits-hadits yang mejelaskan pentingnya memegang prinsip dalam kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan ini.

  1. Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi

Pada dasarnya, kitab ini merupakan resume dari kitab Adab al-Mu’allim karya Syekh Muhamad bin Sahnun, Ta’lim al-Muta’allim fi Thariqat al-Ta’allum karya Syekh Burhanuddin az-Zarnuji, dan Tadzkirat al-Syaml wa al-Mutakalli fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim karya Syekh Ibnu Jamaah. Meskipun merupakan bentuk resume dari kitab-kitab tersebut, tetapi dalam kitab tersebut kita dapat mengetahui betapa besar perhatian KH. Hasyim Asy’ari terhadap dunia pendidikan.

  1. Rasalah Ahl aas-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadts al-Mauta wa Syuruth as-Sa’ah wa Bayani Mafhum as-Sunnah wa al-Bid’ah

Karya KH. Hasyim Asy’ari yang satu ini barangkali dapat dikatakan sebagai kitab yang relevan untuk dikaji saat ini. Hal tersebut karena di dalamnya banyak membahas tentang bagaimana sebenarnya penegasan antara sunnag dan bid’ah. Secara tidak langsung, kitab tersebut banyak membahas persoalan-persoalan yang bakal muncul di kemudian hari. Terutama saat ini.

Dalam beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari tersebut, kita dapat menyimpulkan betapa besar dan luasnya perhatian KH. Hasyim Asy’ari terhadap agama serta betapa mendalamnya pengetahuannya di bidang tersebut. Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari itu menjadi bukti tak terbantahkan betapa ia memang merupakan seorang ulama sam mujtahid yang telah banyak mengahasilkan berbagai warisan tak ternilai, baik dari segi keilmuan maupun dari segi keorganisasian seperti halnya NU.

*Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. M Hasyim Asy’ari Tentang Ahlu Sunnah Wa Al-Jama’ah, (Surabaya, 2010) hal. 67

Drs. Abdul Hadi, KH. Hasyim Asy’ari Sehimpun Cerita, dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara, (Yogyakarta, 2018) hal. 28-32

Artikel Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/kh-m-hasyim-asyari/feed/ 0
Mengenal Ibnu Bajjah, Seorang Filsuf Muslim http://madanitebuireng.ponpes.id/mengenal-ibnu-bajjah-seorang-filsuf-muslim/ http://madanitebuireng.ponpes.id/mengenal-ibnu-bajjah-seorang-filsuf-muslim/#respond Tue, 29 Jun 2021 17:58:55 +0000 http://ukmweb.my.id/demo/madanitebuireng/?p=265 Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh at-Tujibi bin Bajjah, atau lebih akrab disebut Ibnu Bajjah lahir di Saragosa, Andalusia tahun 1095 M. Dan wafat di Fez (Maroko) pada tahun 1138 M. Keterangan tentang riwayat masa kecil beliau tidak bayak diketahui. Namun yang lazim diketahui ia merupakan wazir pada Abu Bakar al-Sahrawi, salah seorang penguasa… Selengkapnya »Mengenal Ibnu Bajjah, Seorang Filsuf Muslim

Artikel Mengenal Ibnu Bajjah, Seorang Filsuf Muslim pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh at-Tujibi bin Bajjah, atau lebih akrab disebut Ibnu Bajjah lahir di Saragosa, Andalusia tahun 1095 M. Dan wafat di Fez (Maroko) pada tahun 1138 M. Keterangan tentang riwayat masa kecil beliau tidak bayak diketahui. Namun yang lazim diketahui ia merupakan wazir pada Abu Bakar al-Sahrawi, salah seorang penguasa daulah Murabbitun. Setelah kota Saragosa direbut oleh Raja Alfonso, ia bertolak ke Seville dan bekerja di sana sebagai dokter. Selain itu ia juga dikenal sebagai ahli astronomi, sastra, dan filsafat.

Dari Seville ia beranjak ke Granada. Tak lama dari kepindahannya nasib nahas menimpa Granada seperti yang terjadi dengan Sevilla. Akhirnya ia memutuskan pergi ke Syatibah. Setiba di sana ia dipenjarakan oleh Amir Abu Ishaq Ibrahim ibn Yusuf ibn Tasyfin, sangat boleh jadi karena dituduh sebaga ahli bid’ah. Menurut Renan, dia dibebaskan, barangkali atas anjuran muridnya, Ibnu Rusyd, filsuf terkemuka Andalusia.

Mendapat kecaman ahli bid’ah, ditambah lawan-lawan Ibnu Bajjah yang beberapa kali berusaha membunuhnya. Namun semuanya gagal. Akhirnya ia pergi ke Fez, Maroko. Di Fez ia mendapat jabatan tinggi yang diberikan gubernur Abu Bakar Yahya ibn Yusuf ibn Tasyfi’. Jabatan itu ia pegang selama 20 tahun. Setelah lama menjadi incaran, nyawa Ibnu Bajjah jatuh ditangan Ibn Zuhr. Seorang dokter masyhur yang meracunnya pada bulan Ramadan 1138 di Fez.

Filsafat dan Nabi

Majalah TebuirengOrang-orang barat lebih mengenal Ibu Bajjah dengan julukan Avempece. Pemikiran-pemikrannya banyak dipengaruhi oleh Aristoteles. Menurutnya filsuf adalah manusia mulia karena selalu condong kepada kebaikan. Bila tujuan dari segala perbuatan telah tercapai, yakni tatkala memahami wujud-wujud ruhaniah berupa akal-akal sederhana dengan segala ide rasional yang melekat di dalamnya, maka seorang filsuf akan menjadi bagian dari akal-akal tersebut dan layak diesbut wujud bersifat ilahi.

Ia juga mengulas tentang aksiden-aksiden ruhani yang bisa menyembu dalam diri manusia, yaitu: (1) aksiden bentuk pertama yang muncul karena adanya indera; (2) aksiden bentuk kedua yang muncul karena adanya tabiat, seperti rasa haus yang membuat seseorang segera mencari air; (3) bentuk akseiden ketiga yng munul berkat hasil pemikiran; (4) aksiden bentuk keempat (aksiden ruhani) yang muncul akbiat akal aktif. Wahyu yang diterima nabi dan mimpi yang benar tergolong jenis aksiden ini. Dua aksiden pertam dimilki oleh hewan dan manusia. Selebihnya, hanya dimilki oleh manusia. Filsuf dan nabi adalah jenis manusia dengna aksiden yang keempat.

Teori Ittishal

Seperti halnya Al-Farabi dan Ibnu Sina, Ibnu Bajjah percaya bahwa pengetahuan tidak diperoleh semata-mata melalui indera. Pertimbangan-pertimbangan universal dan niscaya, isi ilmu yang prediktif dan eksplanasif serta landasan bagi penalaran apodeiktik (aphodeictic) tentang alam, hanya dapat dicapai dengan bantuan akal aktif (‘aql faal) intelegensi yang mengatur.

????  dr. H. Fahmi Djafar Saifuddin, Pejuang Tanpa Padam

Dalam mengelaborasi “akal aktif”, Ibnu Bajjah memaparkan empat prinsip tentang proses akal tersebut dapat terbentuk, sebagai berikut:

Pertama, dari hubungan antara sarana dan tujuan. Sarana khususnya sangat diperlukan bagi tujuan di alam; tetapi di alam gagasan, tujuanlah yang pertama hadir. Dan gagasan itu biasanya mendahului “badan”, atau tidak akan ada kepastian yang mengatasi (dan mengarahkan) permainan kejadian dan kehancuran tak terkendali dan sebagainya.

Kedua, dari proses perubahan. Segala sesuatu menjadi bukan seperti mereka sekarang; mereka tidak menjadi sebab-sebab, tetapi menjadi seperti sebab-sebab yang menghasilkan perubahan dalam diri mereka. Dengan demikian, perubahan dikuasai oleh bentuk-bentuk universal. Akibat-akibat bukan ditimbulkan oleh bntuk partikular khusus, melainkan oleh sebab dari suatu sifat yang tepat (oleh karena itu, kesediaan menerima perubahan, watak-watak dasar sesuatu adalah formal dan universal, bukan material dan idionsikratik).

Ketiga, dari daya imajinasi yang membimbing insting binatang. Binatang tidak mencari air minum atau makanan tertentu, seperti teman mencari teman, atau orang tua mencari keturunan, tetapi makanan atau air apa pun yang akan memenuhi tabiat dasar mereka. Binatang tidak mempunyai konsep-konsep universal. Gagasan-gagasan yang menjelma dalam tingkah laku mereka pasti hadir secara implisit dan objektif bukan eksplisit dan subjektif.

Keempat, dari kerja pikiran itu sendiri. Kita menduga bahwa kita memahami suatu substansi sepanjang kita dapat menisbahkan predikat-predikat terhadapnya; tanpa predikat-predikat itu, kita tidak dapat mengetahui apa-apa tentangnya dan kita pun tidak dapat mengatakan bahwa kita benar-benar memahami.

Teori ini dapat dilihat dari kemungkinan wahyu kenabian dan pengetahuan khusus orang-orang yang dekat dengan Tuhan, yaitu para wali [auliya’], yang di antaranya ia sebutkan para sahabat nabi (shahabah). Melalui interaksi khusus antara akal dan imajinasi, orang-orang itu memperoleh dari malaikat, yaitu, menurut bahasa para filsuf, mereka memperoleh inteligensi-inteligensi tak mewujud yang mengatur bola-bola langit, suatu penglihatan hati, demikian Ibnu Bajjah menyebutnya, yang menggemakan ungkapan Socrates tentang mata hati.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori Ittishal Ibnu Bajjah, yaitu tentang hubungan manusia dengan akal aktif. Tujuan teori ini adalah bagaimana cara mencapai, mengenal, dan mengetahui Tuhan, yaitu dengan cara mengetahui perbuatan-perbuatan Tuhan –memahami sesuatu melalui gagasan-gagasan universalnya sebab setiap perbuatan ada tujuannya, baik perbuatan manusia maupun Tuhan– baik bersifat jasmani atau rohani.

Karya-karya

  1. The Bodlein MS., Arabic Pococke, no. 2016, berisi 22 folio.
  2. The Escurial, MS. No. 612. Hanya berisi risalah-risalah yang ditulis ibnu Bajjah sebagai penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.
  3. Kitab al-Nafs,
  4. Tadbir al-Mutawahhid,
  5. Risalah Ghayah al-Insaniyah.

Sumber:

M M. Syarif, Para filsuf muslim, terjemahan dari Buku Tiga, Bagian Tiga, “The Philosophers”, dari buku History of Muslim Philosophy.

Makalah Amilatul Farihah, https://www.academia.edu/11129824/riwayat hidup dan pemikiran filsafat ibnu bajjah

https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu Bajjah

Artikel Mengenal Ibnu Bajjah, Seorang Filsuf Muslim pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/mengenal-ibnu-bajjah-seorang-filsuf-muslim/feed/ 0