MADANI TEBUIRENG BINTAN http://madanitebuireng.ponpes.id Pesantren Terkemuka Penghasil Insan Pemimpin Berakhlak Karimah Thu, 08 Jul 2021 05:12:31 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.7.2 http://madanitebuireng.ponpes.id/wp-content/uploads/2021/06/cropped-48a5d3bc3160f410ec85cd6fba3d8b6a-32x32.png MADANI TEBUIRENG BINTAN http://madanitebuireng.ponpes.id 32 32 Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan Nasehat KH. Ishaq Latief http://madanitebuireng.ponpes.id/santri-itu-belajar-untuk-mengamalkan-dan-mengajarkan/ http://madanitebuireng.ponpes.id/santri-itu-belajar-untuk-mengamalkan-dan-mengajarkan/#respond Tue, 06 Jul 2021 10:56:07 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=558 Nasehat KH. Ishaq Latief Kepada Para Santri : Sebagai seorang Guru dan juga sebagai seorang Masyayikh yang mengajar di Pondok pesantren Tebuireng, KH. Ishaq latief Selalu berpesan kepada para santri bahwa tugas seorang santri adalah belajar untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah diperoleh selama di pondok pesantren, terutama bagi para santrinya yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng. Ayat yang sering Beliau sitir… Selengkapnya »Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan
Nasehat KH. Ishaq Latief

Artikel <span style='color:#000000;font-size:24px;'>Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan </span><br/> <span style='color:#868686;font-size:18px;'>Nasehat KH. Ishaq Latief </span> pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>

KH. Ishaq Latief saat mengajar kitab kuning di Pondok pesantren Tebuireng

Nasehat KH. Ishaq Latief Kepada Para Santri : Sebagai seorang Guru dan juga sebagai seorang Masyayikh yang mengajar di Pondok pesantren Tebuireng, KH. Ishaq latief Selalu berpesan kepada para santri bahwa tugas seorang santri adalah belajar untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah diperoleh selama di pondok pesantren, terutama bagi para santrinya yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng.

Ayat yang sering Beliau sitir adalah surat At-taubah ayat 122

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

Di bawah ini adalah rangkuman dari beberapa Nasehat KH. Ishaq latief kepada Para santri, terutama santri Pondok Pesantren Tebuireng.

Pertama, santri/pelajar ketika keluar dari kampung halaman untuk menimba ilmu harus memiliki niatan yang kuat. Belajar semata-mata untuk memerangi kebodohan. “Katakanlah. Apakah, sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui”. QS. Az Zumar : 9. Maksudnya, orang yang berpengetahuan tidak sama dengan orang yang bodoh. Sebagaimana di tegaskan dalam Hadis Nabi. Yang artinya: “Sesungguhnya kemuliaan ilmu pengetahuan itu di atas kemuliaan nasab“. Contohnya, Siti Aisyah, istri Nabi SAW. yang lebih utama daripada Siti Fatimah. Siti Aisyah sendiri dalam bidang keilmuan mengungkapkan dalam hadis nabi. “Ambillah dua pertiga agamamu dari Siti Aisyah!”

Kedua, berniat menuntut ilmu agama agar kehidupan kita di dunia yang fana ini berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Nabi Saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang berguna (bermanfaat) untuk orang lain”. Di manapun kita berada sebaiknya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.

Menjadi Muslim Teladan

Dewasa ini, banyak orang yang mengaku ahli agama, namun melihat perilakunya jauh dari nilai-nilai keteladanan. Ucapan dan tindakannya tidak selaras. Akhirnya, kehilangan wibawanya dan beragam pandangan negatif di alamatkan kepada-nya. Seorang mukmin sejati harus mampu menampilkan pribadi yang baik. Baik saat di hadapan Tuhan maupun sesamanya. Karena seorang mukmin sejati juga di tuntut untuk bersikap profesional.

Menurut KH. Ishaq Latief seorang Mukmin sejati memiliki sifat seperti Lebah.
Pertama
, bila ia memakan maka apa yang di makannya halal (yaitu sari-sari bunga yang di hisabnya).
Kedua, bila ia mengeluarkan, maka yang di keluarkan adalah madu, yang bermanfaat bagi kesehatan. Begitu pula ketika mengeluarkan pembicaraan hendaknya pembicaraan yang diungkapkan bukan dusta ataupun ungkapan yang menyakitkan.
Ketiga, bila ia hinggap di dahan, maka dahan yang di hinggapi tidak akan patah walaupun dahan tersebut dahan yang lapuk. Artinya di manapun kita hidup jangan merusak lingkungan. Baik lingkungannya maupun lingkungan orang lain. Sesungguhnya, Lebah tidak akan merusak lingkungan terkecuali ia di usik pasti ia akan mengamuk.

Tuntutlah Ilmu

Menuntut ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim-muslimah. Dengan ilmu membantu seorang (santri) meraih derajat tertinggi baik di hadapan Tuhan dan sesamanya. Sebaliknya, hidup tanpa ilmu sudah pasti hidupnya akan mudah tersesat. Itulah mengapa Manusia yang di anugerahi gelar Khalifatun Fil Ard harus membekali diri dengan ilmu.Sudah begitu banyak orang pandai, memiliki kedudukan tinggi, hartanya melimpah ruah, dan lainnya namun hidupnya jauh dari Tuhan. Seorang Muslim sejati tentu tidak demikian, ia akan selalu ingat akan kebesaran Tuhan. Dan di kehidupan setelah mati akan di perhitungkan amalnya. Maka dari itulah, dengan ilmu agama yang di pelajari khususnya di Pesantren akan membantu seorang muslim hidup di jalan yang diridhai Allah.

KH. Ishaq Latief menuturkan, bahwasanya Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Pelajarilah ilmu agama. Tuntunlah ilmu agama dengan sungguh-sungguh dan tekun sebelum ilmu agama itu di cabut oleh Allah. Sesungguhnya Allah akan mencabut ilmu agama dari wafatnya ulama’ (yang membidangi ilmu agama itu sendiri)” . Dalam hadis lain di sebutkan, “Jadilah engkau sebagai orang yang berilmu, orang yang belajar ilmu, orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang kelima (tidak empat-empatnya) karena kamu akan rusak.”

Menurut KH. Ishaq Latief, Belajar ilmu agama seperti di Pesantren tidak usah khawatir jika masa depannya suram, khawatir tidak kaya, tidak punya jabatan, dll. Rasa ketakutan seperti inilah yang acapakali menghantui para orangtua dan pelajar muslim.

Amalkan Ilmumu

Niat Belajar ilmu agama untuk diamalkan. Bukan untuk berbangga diri dan menyombongi orang lain. “Ilmu tanpa amal membahayakan (bagi yang punya ilmu), dan amal tanpa ilmu menyesatkan (dirinya sendiri dan orang lain)”.

Nabi Musa pernah meminta wasiat kepada Nabi Khidir As ketika gagal berguru kepadanya: “Kamu jangan menuntut ilmu untuk bercerita (bercanda)”.

Tuntutlah ilmu setelah mendapatkannya lantas amalkanlah. Semasa menjadi santri di Pesantren Tebuireng saya selalu mengikuti pengajian kitab yang di bacakan oleh KH. Adlan Aly. Saat khataman kitab, Gurunya, KH. Adlan Ali juga seringkali menyampaikan pesan buat santrinya.

من عمل بما علم علمه الله علم ما لم يعلم

Jadi, barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang belum diketahui. Tetapi itu adalah perkara yang berat bagi kebanyakan orangز

Kumpulan nasehat KH. Ishaq Latief

Sumber : https://www.tebuireng.co/santi-belajar-untuk-mengamalkan-dan-mengajarkan/amp/

Artikel <span style='color:#000000;font-size:24px;'>Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan </span><br/> <span style='color:#868686;font-size:18px;'>Nasehat KH. Ishaq Latief </span> pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/santri-itu-belajar-untuk-mengamalkan-dan-mengajarkan/feed/ 0
Ponpes Madani Tebuireng Bintan Gelar Bimtek Aplikasi E-Learning & E-Daily Activity http://madanitebuireng.ponpes.id/ponpes-madani-tebuireng-bintan-gelar-bimtek-aplikasi-e-learning-e-daily-activity/ http://madanitebuireng.ponpes.id/ponpes-madani-tebuireng-bintan-gelar-bimtek-aplikasi-e-learning-e-daily-activity/#respond Mon, 05 Jul 2021 15:48:00 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=509 Pondok Pesantren (ponpes) Madani Tebuireng Bintan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Aplikasi E-Learning & E-Daily Activity, Selasa (29/6/2021). Kegiatan yang bertempat di Lab Komputer ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas guru dan santri Ponpes Madani Tebuireng Bintan. Bimtek yang dilaksanakan dari pukul 08:30 sampai dengan 16:00 WIB  tersebut dibuka oleh sambutan dari pengasuh Ponpes Madani, K.H.… Selengkapnya »Ponpes Madani Tebuireng Bintan Gelar Bimtek Aplikasi E-Learning & E-Daily Activity

Artikel Ponpes Madani Tebuireng Bintan Gelar Bimtek Aplikasi E-Learning & E-Daily Activity pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Pondok Pesantren (ponpes) Madani Tebuireng Bintan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Aplikasi E-Learning & E-Daily Activity, Selasa (29/6/2021). Kegiatan yang bertempat di Lab Komputer ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas guru dan santri Ponpes Madani Tebuireng Bintan.

Bimtek yang dilaksanakan dari pukul 08:30 sampai dengan 16:00 WIB  tersebut dibuka oleh sambutan dari pengasuh Ponpes Madani, K.H. Muhammad Lukman, S.Ag., M.HI. Ia mengatakan bahwa bimtek ini merupakan program unggulan untuk melakukan lompatan metode pembelajaran secara online (digital). “Bimtek ini juga untuk mendukung pelaksanaan daily acitivity online untuk guru dan santri,” ucapnya.

Bimtek diisi oleh Yose Sano H., S.T., MM. dari PT. Ikhwan Media Solusi, Solo Jawa Tengah. Bimtek dengan 2 sesi pemberian materi. Sesi pertama mengupas tentang penggunaan e-daily activity untuk daftar hadir guru dan santri, mencatat kegiatan harian guru dan santri, dan lainnya. Sedangkan sesi kedua tentang penggunaan aplikasi e-learning yang membahas soal-soal yang dapat diakses oleh guru dan santri. Aplikasi ini sebagai pilihan dan solusi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di masa pandemi Covid-19.

Bimtek ini diikuti oleh seluruh guru Ponpes Madani. Hadir pula pada saat itu seluruh pengasuh ponpes dan pengurus yayasan serta Kepala MA Madani. Secara terpisah, Kepala MA Madani, Fathorrazi, berharap setelah bimtek ini Ponpes Madani segera dapat mengaplikasikan e-learning dan e-daily tersebut.

“Setelah seluruh guru Ponpes Madani mengikuti Bimtek, selanjutnya kami akan menyosialisasikannya kepada santri dan melaksanakannya pada tahun ajaran baru 2021/2022 ini,” kata Fathorrazi. (amilia)

https://kepri.kemenag.go.id/page/det/ponpes-madani-tebuireng-bintan-gelar-bimtek-aplikasi-e-learning–e-daily-activity

Artikel Ponpes Madani Tebuireng Bintan Gelar Bimtek Aplikasi E-Learning & E-Daily Activity pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/ponpes-madani-tebuireng-bintan-gelar-bimtek-aplikasi-e-learning-e-daily-activity/feed/ 0
Jalan-jalan http://madanitebuireng.ponpes.id/jalan-jalan/ http://madanitebuireng.ponpes.id/jalan-jalan/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:09:06 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=485 Cak Jahlun adalah orang yang katrok. Ia belum pernah tahu mall. Ia ingin sekali melihat isi mall. Diapun minta bantuan Paijo untuk mengantarnya jalan-jalan ke mall. Paijo menyanggupinya. Singkat cerita, Cak Jahlun dan Paijo jalan-jalan di sebuah mall di Surabaya. Biasanya, orang pergi ke mall bawa uang banyak. Tapi keduanya tidak bawa uang banyak, karena hanya… Selengkapnya »Jalan-jalan

Artikel Jalan-jalan pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Cak Jahlun adalah orang yang katrok. Ia belum pernah tahu mall. Ia ingin sekali melihat isi mall. Diapun minta bantuan Paijo untuk mengantarnya jalan-jalan ke mall. Paijo menyanggupinya.

Singkat cerita, Cak Jahlun dan Paijo jalan-jalan di sebuah mall di Surabaya. Biasanya, orang pergi ke mall bawa uang banyak. Tapi keduanya tidak bawa uang banyak, karena hanya berniat jalan-jalan. Ketika memasuki sebuah toko pakaian, mereka bersamaan dengan ibu yang kelihatan tajir.

Mereka pura-pura pilih pakaian. Kebetulan ibu muda tersebut punya selera yang sama. Pilih sini ketemu, pilih sana ketemu, akhirnya ibu itu menghardik mereka, supaya tidak mengikutinya.

Keduanya lalu menjauh. Ketika di depan kasir, kebetulan Cak Jahlun dan Paijo pas berada di belakang ibu muda tadi. Tanpa diduga, ibu muda tersebut kehilangan dompetnya. Tanpa ba bi bu lagi si ibu menuduh Cak Jahlun dan Paijo yang telah mengambil dompetnya karena dari tadi mengikutinya terus. Seorang Ibu lain mengusulkan agar tidak cepat menuduh dan memintanya untuk bertanya kepada orang yang di rumah, mungkin ketinggalan. Tapi ibu muda itu tetap ngotot menuduh Cak Jahlun dan Paijo yang telah mengambilnya.

Mendapat tuduhan seperti itu Cak Jahlun pucat pasi takut bukan kepalang. Seumur-umur baru sekarang jalan-jalan ke mall dan langsung dapat musibah.

Di dalam mall itu mereka berdua dimaki habis-habisan. Pak satpam pun ikut membantu. Seorang bapak datang menghampiri mereka. Ternyata dia suami ibu yang menuduh tadi. Dia mengatakan kalau dompetnya terbawa olehnya.

Cak Jahlun dan Paijo merasa lega. Ibu itupun meminta maaf. Karena tahu ibu itu tajir, Paijo mengajukan syarat padanya. Ia minta ganti rugi sebesar Rp. 3.000.000 karena malu dituduh dan dimaki di depan umum.

Cak Jahlun kaget dengan permintaan Paijo. Cak Jahlun berbisik kepadanya: “Apa tidak kebanyakan?”

“Santai aja, Cak. Dia orang kaya, harus dikasih pelajaran” jawab Paijo mantap.

Ibu itu menyetujuinya. Dompetnya dibuka, lalu dihitungnya uang sebanyak 3 juta. Kemudian uang itu diserahkan kepada Cak Jahlun. Merasa akan menerima uang, Cak Jahlun langsung menengadahkan tangan hendak menerima. Namun tiba-tiba, tangannya terasa sakit karena dipukul oleh ustadz Halim. ”Heh, bangun !!! Sudah shubuh! Ayo sholat !!!”

Artikel Jalan-jalan pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/jalan-jalan/feed/ 0
Cak Jahlun Salah Tangkap http://madanitebuireng.ponpes.id/cak-jahlun-salah-tangkap/ http://madanitebuireng.ponpes.id/cak-jahlun-salah-tangkap/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:08:26 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=482 Pada musim sepak bola Piala Dunia (World Cup), banyak para santri yang keluar malam tanpa izin untuk menonton bola. Mengantisipasi hal itu, maka Ustadz Gatot sebagai Kepala Pondok mengerahkan seluruh pengurus dan santri senior untuk melakukan operasi di rumah-rumah penduduk. “Saya harap seluruh pengurus dan para santri senior untuk menindak santri yang keluar malam tanpa… Selengkapnya »Cak Jahlun Salah Tangkap

Artikel Cak Jahlun Salah Tangkap pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Pada musim sepak bola Piala Dunia (World Cup), banyak para santri yang keluar malam tanpa izin untuk menonton bola. Mengantisipasi hal itu, maka Ustadz Gatot sebagai Kepala Pondok mengerahkan seluruh pengurus dan santri senior untuk melakukan operasi di rumah-rumah penduduk. “Saya harap seluruh pengurus dan para santri senior untuk menindak santri yang keluar malam tanpa izin tersebut dengan sistem gundul di tempat,” terang Ustadz Gatot.

Pada suatu malam, Cak Jahlun bersama tiga santri senior lain melakukan operasi ke rumah-rumah penduduk. Pada salah satu rumah didapati empat orang santri yang sedang asyik nonton. Setelah meminta izin kepada pemilik rumah, merekapun dieksekusi.

“Sini kamu!” kata Cak Jahlun kepada santri yang pegang remote. Mendengar bentakan itu dia takut bukan kepalang. Dengan badan gemetaran dia datang mendatangi Cak Jahlun. Dan, ‘crek crek crek’ habislah rambut anak tersebut.

Setelah semuanya digundul, mereka diajak pulang ke pondok. Namun anak yang pegang remote dan kepalanya digundul oleh Cak Jahlun, ngotot tidak mau kembali. Tiba-tiba sang pemilik rumah keluar dari dalam kamar. “Lho, anak saya kok ikut digundul?” katanya heran. ”Hah…!?!?!” Cak Jahlun panik.

Artikel Cak Jahlun Salah Tangkap pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/cak-jahlun-salah-tangkap/feed/ 0
3 Tokoh Besar Tebuireng, Menjaga Martabat Islam Melalui Tulisan http://madanitebuireng.ponpes.id/3-tokoh-besar-tebuireng-menjaga-martabat-islam-melalui-tulisan/ http://madanitebuireng.ponpes.id/3-tokoh-besar-tebuireng-menjaga-martabat-islam-melalui-tulisan/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:07:48 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=479 Menjaga Martabat Islam adalah salah satu buku terbitan Pustaka Tebuireng tahun 2015 yang merangkum tulisan, pesan, pidato, bahkan artikel media dari tiga tokoh Pesantren Tebuireng, seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahid Hasyim, dan KH. Salahuddin Wahid, yang kemarin dikabarkan telah meghembuskan nafas terakhirnya, pada (2/2/20) pukul 20.55 WIB di Rumah Sakit Jantung Harapan… Selengkapnya »3 Tokoh Besar Tebuireng, Menjaga Martabat Islam Melalui Tulisan

Artikel 3 Tokoh Besar Tebuireng, Menjaga Martabat Islam Melalui Tulisan pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Menjaga Martabat Islam adalah salah satu buku terbitan Pustaka Tebuireng tahun 2015 yang merangkum tulisan, pesan, pidato, bahkan artikel media dari tiga tokoh Pesantren Tebuireng, seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahid Hasyim, dan KH. Salahuddin Wahid, yang kemarin dikabarkan telah meghembuskan nafas terakhirnya, pada (2/2/20) pukul 20.55 WIB di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Buku yang memiliki 200 halaman ini, telah memuat 18 tulisan tentang KH. Salahuddin Wahid atau kerap disapa Gus Sholah. Adapun 18 tulisan itu, dirangkum oleh tim dari artikel media dan pidato yang Gus Sholah sampaikan dalam sebuah acara. Dari 18 tulisan di dalamnya, terdapat 3 artikel yang khusus membahas tentang “Keindonesiaan dan Keislaman”. Selain itu, Gus Sholah berbicara terkait agama, budaya, dan sosial. Seperti Konflik Agama dan Kesenjangan Ekonomi, Tuntutan Kesalehan Terhadap Lingkungan, Cinta Kepada Sesama, Bersyukur, Menyelaraskan Ibadah Mahdhah dan Perilaku Sosial, bahkan berbicara tentang Kelembutan dan Kekerasan.

KH. Abdul Mun’im DZ, Wasekjen PBNU, menulis dalam kata pengantarnya, bahwa buku ini adalah mata rantai dari perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama puteranya, KH. Abdul Wahid Hasyim dan cucunya, KH. Salahuddin Wahid. Kalau dalam tulisannya, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya memperkuat keimanan, keharusan membangun ukhuwah islamiyah serta kemandirian umat, karena itu memang umat Islam sedang dalam menghadapi tekanan penjajahan Belanda, sementara umat Islam yang beraneka ragam itu sedang dalam pertikaian masalah furu’iyah. Padahal untuk menghadapi Belanda yang sangat kuat, sangat diperlukan persatuan. Selain itu startegi paling jitu menghadapi pengaruh Belanda adalah dengan membangun kemandirian.

Sementara yang ditulis oleh KH. Abdul Wahid Hasyim adalah merupakan pedoman berpolitik umat Islam dalam menghadapi masa pancaroba dan transisi dari pemerintahan Kolonial ke pemerintahan Republik yang penuh gejolak. Dari tulisan inilah beliau memberikan bimbingan politik pada masyarakat mulai dari cara memahami masalah secara utuh dan sekaligus rinci dan bagaimana cara untuk menghadapinya.

Dengan misi yang tidak jauh berbeda tetapi membawa nilai yang sama, Gus Sholah menegaskan perlunya mengedepankan srpiritualitas dalam kehidupan modern yang sangat pragmatis dan materialistis. Penekanan itu penting karena dalam kehidupan modern yang bebas dari nilai itu sebaliknya umat Islam dan NU khususnya justru harus berpegang pada nilai-nilai. Karena dalam tata nilai itulah moral tumbuh dan berkembang. Kalau tidak lagi berpegang pada nilai dan norma agama dan sosial yang disepakati justru akan kehilangan tidak hanya jati diri tetapi kehilangan eksistensi, artinya lenyap diseragamkan dalam globalisasi.

Dalam salah satu tulisannya, mengenai kelembutan dan kekerasan, Gus Sholah mengatakan bahwa teladan utama bagi umat Islam adalah Rasulullah saw, setiap perkataan dan tindakan beliau dijadikan acuan oleh umat Islam saat mereka menghadapi berbagai persoalan. Karena ternyata kini Amerika Serikat juga ada sebuah kecenderungan yang mirip, yaitu dikenal dengan What Would Jesus Do (apa yang akan dilakukan Yesus). Mereka bertanya apakah sikap Yesus kalau menghadapi persoalan.

Rasulullah saw adalah sosok yang lembut dalam berkata dan bersikap, tetapi bisa bersikap tegas apabila diperlukan. Beliau bersikap lembut dalam berbagai contoh, tetapi bersikap tegas dalam berbagai peristiwa. Beliau adalah penglima perang yang menuntut ketegasan. Seorang ahli kepemimpinan pernah membuat istilah “velvet iron leadership” (kepemimpinan beludru dan baja). Mungkin kepemimpinan beliau dimisalkan seperti itu. Yang sulit ialah menentukan kapan harus bersikap seperti beludru dan kapan bersikap seperti baja? Kalau tidak tepat bisa tidak produktif.

Jawaban-jawaban dari pembahasan di atas, ada di dalam buku “Menjaga Martabat Islam” ini. Sebuah buku yang merupakan aliran sungai untuk mewariskan ideologi  perjuangan  dari generasi ke generasi agar terus nyambung. Dengan adanya buku ini dan tulisan ini, beliau berharap bahwa dengan menyebarluaskannya secara luas itu menunjukkan bahwa kiai Hasyim ingin bahwa ideologi perjuangan, kepemimpinan NU bukanlah untuk keturunan sendiri, tetapi menjadi informasi dan sekeligus pengetahuan bagi seluruh warga NU dan masyarakat pada umumnya, sehingga mereka juga memiliki potensi untuk berkembang.

 

Sumber: https://tebuireng.online/3-tokoh-besar-tebuireng-menjaga-martabat-islam-melalui-tulisan/

Artikel 3 Tokoh Besar Tebuireng, Menjaga Martabat Islam Melalui Tulisan pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/3-tokoh-besar-tebuireng-menjaga-martabat-islam-melalui-tulisan/feed/ 0
Sang Pemimpin yang Membimbing http://madanitebuireng.ponpes.id/sang-pemimpin-yang-membimbing/ http://madanitebuireng.ponpes.id/sang-pemimpin-yang-membimbing/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:07:09 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=476 Ketika memilih orang-orang yang ingin dijadikan pemateri seminar nasional beberapa bulan lalu, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menanyakan pendapat ke beberapa orang, termasuk kepada saya, dan akhirnya ditemukan tokoh-tokah yang dianggap dapat mewakili berbagai pandangan yang berbeda-beda tentang tema yang diangkat dalam seminar tersebut yaitu tokoh yang mewakili pemerintah dalam hal ini dari BNPT, tokoh… Selengkapnya »Sang Pemimpin yang Membimbing

Artikel Sang Pemimpin yang Membimbing pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Ketika memilih orang-orang yang ingin dijadikan pemateri seminar nasional beberapa bulan lalu, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menanyakan pendapat ke beberapa orang, termasuk kepada saya, dan akhirnya ditemukan tokoh-tokah yang dianggap dapat mewakili berbagai pandangan yang berbeda-beda tentang tema yang diangkat dalam seminar tersebut yaitu tokoh yang mewakili pemerintah dalam hal ini dari BNPT, tokoh NU, tokoh Muhammadiyah, tokoh PKS, dan tokoh akademisi.

Gus Sholah ingin seminar nantinya bisa menemukan titik temu dari beragam penafsiran tentang tema yang diusung agar tidak terus menimbulkan perdebatan di tengah umat. Namun ketika meminta saya untuk menjadi pembicara seminar nasional yang mewakili pesantren Tebuireng, beliau tidak menanyakan dulu pendapat saya; apakah saya setuju atau tidak.

Hari itu, setelah menemukan orang-orang yang dianggap dapat mewakili berbagai kalangan yang berbeda-beda, beliau mengirim pesan singkat melalui aplikasi whatsApp kepada saya yang isinya kurang lebih begini; “dari kita saudara Fathur Rohman”. Maksudnya yang menjadi pembicara mewakili Tebuireng adalah saya, ketika membaca pesan tersebut saya tidak langsung membalasnya karena saya bingung bagaimana membalasnya sebab sebelumnya tidak ada pembicaraan tentang tawaran kepada saya untuk menjadi pembicara.

Selain itu ada kekhawatiran kalau saya tidak sesuai dengan harapan yang beliau inginkan karena latar belakang saya yang bidang bahasa Arab, bukan kajian keislaman dan sosiologi sebagaimana tema seminar yang diusung, juga bukan karena saya tidak berani berbicara di hadapan tokoh-tokoh nasional karena saya sudah terbiasa menjadi pembicara, moderator, atau penerjemah seminar, utamanya ketika ada pemateri dari Timur Tengah, namun karena saya merasa itu bukan bidang keilmuan yang sudah lama saya tekuni.

Banyak kehawatiran dalam pikiran saya tentang hal itu, saya berusaha memahami dengan berkata pada diri saya sendiri; Yai Sholah orang yang jauh lebih mengerti tentang hal-hal seperti ini, saya yakin sebelum menentukan pilihannya kepada saya untuk menjadi pembicara mewakili Tebuireng, beliau sudah mempertimbangkan dengan baik.

Beliau telah meminta saran ke beberapa orang seperti ketika beliau memilih tokoh-tokoh nasional untuk menjadi pembicara seminar tersebut, dan mungkin beliau telah mempelajari karakter beberapa orang di Tebuireng yang ketika ditawari sebuah tugas ia akan menolak tetapi ketika diberi tugas ia akan melaksanakan dengan baik, karena bagi sebagian orang pantang meminta amanah, tetapi bila diberi amanah akan ia jalankan dengan sebaik-baiknya.

Setelah berpikir beberapa saat, saya menjawabnya kurang lebih; inggih yai, InsyaAllah saya siap. Setelah menjawab itu, beliau mengundang saya ke ndalemnya yang baru di belakang masjid (bukan ndalem kasepuhan) bersama dua orang pimpinan dari unit Pusat Kajian. Pada pertemuan yang tepat waktu mulainya seperti biasanya itu membahas persiapan seminar tersebut dan ada pesan yang khusus ke saya yaitu agar ketika saya menjadi pembicara seminar yang mewakili Tebuireng nanti jangan menyampaikan pandangan yang condong kepada yang pro dan jangan yang condong kepada yang kontra, saya diminta agar berada di posisi pandangan yang tengah-tengah, sekali lagi saya sampaikan; InsyaAllah.

Beliau tidak hanya memilih saya menjadi pembicara mewakili Tebuireng tetapi juga mengajari saya bagaimana menjadi pembicara yang mewakili Tebuireng yaitu memegang prinsip tawassutiyah, dan beliau mengajari saya dengan beberapa kali mengirimi saya artikel dan vidio yang membahas tema dalam seminar tersebut, artikel dan vidio itu berisikan pandangan-pandangan yang pro dan pandangan-pandangan yang kontra, artinya beliau ingin saya benar-benar belajar agar bisa memahami pendapat yang pro dan pendapat yang kontra agar betul-betul bisa menjadi pembicara yang tawassut (tengah-tengah) bukan condong kepada salah satu pihak yang sedang berselisih pendapat.

Beliau tidak hanya memberi tugas saja, tetapi juga membimbing saya agar betul-betul mampu menjalankan tugas yang diberikan dengan baik. Saya mulai belajar banyak tentang tema yang diusung dalam seminar tersebut untuk kemudian saya membuat makalah dan saya kirimkan kepada beliau melalui asisten pribadi beliau agar bila tulisan saya ada yang tidak sesuai dengan harapan Yai Sholah maka akan saya hapus dan tidak akan saya sampaikan dalam seminar tersebut, namun sampai hari H tidak ada pesan yang sampai kepada saya dari beliau yang itu saya anggap berarti isi makalah saya tidak bertentangan dengan harapan beliau.

Setelah acara seminar selesai, ada teman karib beliau yang bernama Prof. KH. Nashihin Hasan naik ke panggung dan menyalami saya sambil berkata kurang lebih; selamat mas, bagus penyampaian materinya, mengena kepada orang-orang yang pro dan mengena juga kepada orang-orang yang kontra, betul-betul ini tawassut, mengenai semuanya, Tebuireng sekali … dst. Saya sampaikan; terima kasih Yai.

Saya benar-benar lega karena tugas telah selesai saya laksanakan dengan baik dan tidak mengecewakan pihak-pihak terkait. Hal yang dapat saya ambil pelajaran adalah seorang pemimpin tidak hanya memerintah memberi tugas saja, tetapi juga membimbing orang yang diberi tugas agar mampu melaksanakannya dengan baik tugas yang diberikan.

Allahummaghfirlahu warhamu waafihi wa’fuanhu

 

Sumber : https://tebuireng.online/sang-pemimpin-yang-membimbing/

Artikel Sang Pemimpin yang Membimbing pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/sang-pemimpin-yang-membimbing/feed/ 0
Rambut Mulai Beruban, Bolehkah Menyemirnya? http://madanitebuireng.ponpes.id/rambut-mulai-beruban-bolehkah-menyemirnya/ http://madanitebuireng.ponpes.id/rambut-mulai-beruban-bolehkah-menyemirnya/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:06:31 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=472 Rambut manusia memiliki berbagai macam warna alami seperti hitam, pirang maupun coklat. Sebagian dari mereka menyemirnya dengan warna-warni karena ingin memperindah atau karena uban yang muncul seiring usia senja. Islam adalah agama yang mengatur setiap aspek kehidupan manusia, begitupun dalam hal berhias salah satunya yakni berhias dengan menyemir rambut. Bagaimanakah hukum menyemir rambut? Hukum Menyemir… Selengkapnya »Rambut Mulai Beruban, Bolehkah Menyemirnya?

Artikel Rambut Mulai Beruban, Bolehkah Menyemirnya? pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Rambut manusia memiliki berbagai macam warna alami seperti hitam, pirang maupun coklat. Sebagian dari mereka menyemirnya dengan warna-warni karena ingin memperindah atau karena uban yang muncul seiring usia senja.

Islam adalah agama yang mengatur setiap aspek kehidupan manusia, begitupun dalam hal berhias salah satunya yakni berhias dengan menyemir rambut. Bagaimanakah hukum menyemir rambut?

Hukum Menyemir Rambut dengan Warna Hitam

Dalam hal menyemir rambut dengan warna hitam para ulama sepakat mengharamkannya. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadist bahwa ketika Rasulullah bertemu dengan Abi Quhafah pada saat penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) Rasulullah menyuruhnya untuk menyemir rambut dan jenggotnya dengan selain warna hitam.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ»[1]

Artinya: Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: pada hari Fathu Makkah Abi Quhafah dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Sementara rambut dan jenggotnya berwarna putih seperti tanaman yang putih, maka Rasulullah bersabda: “ Rubahlah ini dengan sesuatu dan jauhi warna hitam.”

Di dalam kitab yang lain disebutkan bahwa: “diharamkan bagi wali menyemir rambut anak kecil walaupun perempuan dengan warna hitam karena termasuk merubah ciptaan Allah.” Dan hukum merubah ciptaan adalah haram.

Tetapi ada pengecualian bagi istri yang ingin mewarnai rambutnya dengan warna hitam, bila tujuannya karna ingin menyenangkan suaminya maka hukumnya boleh.

Bagaimana Hukum Menyemir Rambut Hitam dengan Warna Lain?

Bila menyemir rambut dengan warna hitam karena ingin terlihat muda, bagaimanakah hukum menyemir rambut dengan warna-warni karena ingin memperindah?

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini.

Hukum asal dari menyemir rambut dengan warna merah atau kuning adalah sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam hadist dalam  hadist di sunan Abu daud no. 4211 berikut ini.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ قَدْ خَضَّبَ بِالْحِنَّاءِ، فَقَالَ: «مَا أَحْسَنَ هَذَا» قَالَ: فَمَرَّ آخَرُ قَدْ خَضَّبَ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ، فَقَالَ: «هَذَا أَحْسَنُ مِنْ هَذَا»، قَالَ: فَمَرَّ آخَرُ قَدْ خَضَّبَ بِالصُّفْرَةِ، فَقَالَ: «هَذَا أَحْسَنُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ»[2

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Seorang yang menyemir rambutnya dengan hinna melewati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau berkata, ‘Bagus sekali orang itu.’  Kemudian lewat lagi seseorang di depan beliau seorang yang menyemir rambutnya dengan hinndan katm, maka beliau berkata, ‘Bagus sekali orang itu.’ Kemudian lewat lagi seseorang yang menyemir rambutnya keemasan, maka beliau berkata, “yang ini lebih baik dari yang lainnya”.

Hadist tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah memuji orang yang menyemir rambutnya dengan warna kuning.

Hukum Menyemir Bila Menyerupai Orang Fasik

Perlu diperhatikan bahwa saat ini menyemir rambut sudah identik dengan orang fasik. Bagaimanakah hukum menyemirnya?  Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya  ihya’ ulumiddin menyebutkan bahwa apabila sebuah hal yang sunnah telah dilakukan atau menjadi kebiasaan dari orang maka harus ditinggalkan yakni hukumnya menjadi haram, karena menyerupai mereka.

Sementara Imam ‘Izzaluddin Abdus Salam sunah tetap tidak perlu ditinggalkan meskipun identik dengan orang fasik. Asalkan dengan tujuan melaksanakan sunah dan bukan tasybih (menyerupai) orang fasik. [3]

Dapat disimpulkan bahwa menyemir rambut dengan warna hitam diharamkan, karena termasuk merubah ciptaan Allah. Kecuali untuk istri atas perintah dari suaminya. Sementara dengan warna merah atau kuning adalah sunah asal tidak bertujuan untuk menyerupai orang fasik. Demikian pembahasan yang kami sajikan. Semoga bermanfaat.


*Ditranskip oleh S Afifah RusdaMaha Santri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.

[1]. Muslim bin hajjah, shohih muslim ( daru ihya’, Beirut ) jus 3 hal. 1663

[2] . sunan Abu daud . hal. 86 jilid. 4

[3] . Hasan siri, Fi bayan ahkam anwa’ tasybih hal. 11-12

 

Sumber : https://tebuireng.online/rambut-mulai-beruban-bolehkah-menyemirnya/

Artikel Rambut Mulai Beruban, Bolehkah Menyemirnya? pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/rambut-mulai-beruban-bolehkah-menyemirnya/feed/ 0
Bolehkah Menolak Perjodohan Orang Tua? http://madanitebuireng.ponpes.id/bolehkah-menolak-perjodohan-orang-tua/ http://madanitebuireng.ponpes.id/bolehkah-menolak-perjodohan-orang-tua/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:05:20 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=469 Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakat dalam menikah. Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya. Begitu pula sebaliknya. Pernikahan dalam Islam merupakan nikmat Allah yang sepatutnya disyukuri oleh setiap insan yang bernyawa, karena dengan pernikahan… Selengkapnya »Bolehkah Menolak Perjodohan Orang Tua?

Artikel Bolehkah Menolak Perjodohan Orang Tua? pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakat dalam menikah. Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya. Begitu pula sebaliknya.

Pernikahan dalam Islam merupakan nikmat Allah yang sepatutnya disyukuri oleh setiap insan yang bernyawa, karena dengan pernikahan kita banyak mendapatkan kemanfaataan. Dan jangan lupa, menikahlah dengan insan yang kau senangi. Allah mensyariatkan perihal tersebut dalam firman-Nya:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi” (QS. an-Nisa: 3)

Ringkasnya, perjodohan hanyalah salah satu cara untuk menikahkan. Orang tua dapat menjodohkan anaknya. Tapi hendaknya meminta izin dan persetujuan dari anaknya, agar pernikahan yang diselenggarakan, didasarkan pada keridhaan masing-masing pihak, bukan keterpaksaan. Pernikahan yang dibangun di atas dasar keterpaksaan, jika terus berlanjut akan mengganggu keharmonisan rumah tangga. Wallahu a’lam.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى‎ ‎تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ‏‎ ‎الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ‏‎ ‎قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ‏‎ ‎وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ‏‎ ‎تَسْكُتَ

Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Di antara kemuliaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kaum wanita setelah datang Islam adalah bahwa mereka mempunyai hak penuh dalam menerima atau menolak suatu lamaran atau pernikahan, yang mana hak ini dulunya tidak dimiliki oleh kaum wanita di zaman jahiliah. Karenanya tidak boleh bagi wali wanita manapun untuk memaksa wanita yang dia walikan untuk menikahi lelaki yang wanita itu tidak senangi.

Lantas berdosakah seorang anak yang menolak perjodohan orang tuanya dan apakah anak tersebut dikatakan durhaka karena penolakannya?

وعن ابن عباس رضي الله عنهما “أن جارية بكرا أتت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة فخيرها رسول الله صلى الله عليه وسلم” رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه

Dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Telah datang seorang gadis muda terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia mengadu bahwa ayahnya telah menikahkanya dengan laki-laki yang tidak ia cintai, maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepadanya (melanjutkan pernikahan atau berpisah). (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Maka berdasarkan hadits tersebut diatas, penolakan seorang anak terhadap perjodohan orang tuanya adalah tidak berdosa dan tidak dikategorikan sebagai sikap durhaka dengan sebuah catatan penolakan tersebut harus dilakukan dengan cara dan ucapan yang bijak sehingga tidak menyakiti hati dan perasaan orang tua.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ‏‎ ‎بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا‎ ‎وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا‎ ‎أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا‎ ‎وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

 

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421).

Hukum pernikahan dalam Islam yang sesuai dengan syariat adalah dengan adanya keridhaan dari kedua calon mempelai.  Jelas sudah jika satu tak ridha, atau nikah dengan terpaksa maka pernikahan tersebut tidak sesuai syariat Islam dan dilarang dalam syariat.

Syaikh Abdurrahamn as-Sa’di rahimahullah  memaparkan dalam al-Majmu’ah al-Kamilah li Muallafat bahwa tidak boleh bagi ayah perempuan itu untuk memaksa dan tidak boleh pula bagi ibunya untuk memaksa anak perempuan itu menikah, meski keduanya ridha dengam keadaan agama dari lelaki tersebut.

 

Sumber : https://tebuireng.online/bolehkah-menolak-perjodohan-orang-tua/

Artikel Bolehkah Menolak Perjodohan Orang Tua? pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/bolehkah-menolak-perjodohan-orang-tua/feed/ 0
Siapa Manusia Paling Bahagia? http://madanitebuireng.ponpes.id/siapa-manusia-paling-bahagia/ http://madanitebuireng.ponpes.id/siapa-manusia-paling-bahagia/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:04:38 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=466 “Bahagia itu sederhana, bahagia itu indah,” begitu kata mutiara dari orang-orang bijak. Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua orang pasti ingin bahagia. Tapi caranya kadang yang berbeda-beda. Memaknai bahagia itu yang kadang setiap orang berbeda cara dan keadaan. Siapapun ingin bahagia. Berkeluarga tujuannya juga ingin bahagia. Ada orang yang kadang rela bekerja mencari rezeki, pergi… Selengkapnya »Siapa Manusia Paling Bahagia?

Artikel Siapa Manusia Paling Bahagia? pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
“Bahagia itu sederhana, bahagia itu indah,” begitu kata mutiara dari orang-orang bijak.

Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua orang pasti ingin bahagia. Tapi caranya kadang yang berbeda-beda. Memaknai bahagia itu yang kadang setiap orang berbeda cara dan keadaan. Siapapun ingin bahagia. Berkeluarga tujuannya juga ingin bahagia.

Ada orang yang kadang rela bekerja mencari rezeki, pergi pagi (bahkan) hampir pulang pagi (lagi), ya tujuannya pasti ingin bahagia. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Keringat kuning menetes sampai tumitnya demi sesuap nasi dan menafkahi keluarganya, pasti orang seperti itu juga kalau ditanya, ingin bahagia.

Ada lagi, orang yang mengambil harta dengan cara yang tidak benar. Ada yang merampas, merampok, membegal, bahkan sampai dibela-belain korupsi ratusan juta, milyaran rupiah, bahkan ada yang triliunan rupiah. Pasti kalau ditanya orang yang begitu, juga ingin bahagia hidupnya. Walaupun dengan jalan yang tidak benar, salah dan mendzalimi dirinya sendiri.

Majalah TebuirengKalau begitu, hakikatnya, bahagia itu sederhana dan relatif sekali. Tergantung bagaimana menikmati dan memaknai arti dan hakikat sebuah kebahagiaan. Kalau ukurannya dunia, materi, atau bahkan kekuasaan, jabatan, dan gemerlapnya dunia, jelas tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa indikator kebahagiaan itu bisa didapat dan dicapai dengan materialisme itu. Saya kok belum pernah menemukan referensinya.

Sejauh ini, yang saya sering baca dalam beberapa referensi, bahwa kalau seseorang itu mendasarkan kebahagiaan itu diukur dengan materi atau dunia serta isinya ini, jelas akan fana’ atau rusak. Materi itu akan rusak di telan zaman dan waktu. Kekuasaan akan hilang pada waktunya.

Kecantikan fisik akan lekang ditelan masa. Dunia dan isinya ini pun akan lenyap dan fana’ pada saatnya. Tidak ada yang permanen dan kekal. Sehingga, kebahagiaan yang sifatnya materialisme tidak bisa dijadikan ukuran yang absolut. Materi itu sifatnya hanya pelengkap saja. Tidak boleh lebih.

Menurut dalam kitab ini, Nashoihul ‘Ibad, manusia yang paling bahagia itu adalah:

1. Man Lahu Qalbun ‘Aalimun; orang yang memiliki hati, dimana hatinya itu selalu paham dan mengerti akan keberadaan Allah. Dan Allah merasa selalu bersamanya.

2. Badanun Shaabirun;  Orang yang selalu bersabar. Dalam situasi dan kondisi apapun. Karena Sabar itu tidak berbatas. Sabar dalam ketaatan (Al Shabru fiy Al Thaa’at), dan sabar dalam menghadapi musibah (Al Shabru fiy Al Musibah).

3. Wa Qona’ah bi Maa fiy Al Yad; Selalu menerima  (pemberian Allah) atas apa yang ada (sedang berada) di tangannya. Apa yang Allah berikan kepadanya, ia nikmati dan ia syukuri. Sebesar apapun, atau sekecil apapun sama-sama ia terima dengan ikhlas dan lapang dada. Tidak ngersulo, tidak meratapi nasib, (apalagi) menyalah-nyalahkan Allah SWT.

Tiga jenis orang inilah, yang benar-benar menjadi manusia yang paling berbahagia. Kebahagiaan yang abadi dan hakiki.

Wallahu A’lam.

 

Sumber : https://tebuireng.online/siapa-manusia-paling-bahagia/

Artikel Siapa Manusia Paling Bahagia? pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/siapa-manusia-paling-bahagia/feed/ 0
Rindang Seperti Pohon, Tawaduk Bagai Padi http://madanitebuireng.ponpes.id/rindang-seperti-pohon-tawaduk-bagai-padi/ http://madanitebuireng.ponpes.id/rindang-seperti-pohon-tawaduk-bagai-padi/#respond Fri, 02 Jul 2021 09:03:58 +0000 http://madanitebuireng.ponpes.id/?p=463 Menjadi manusia yang baik tentu menjadi salah satu tujuan hidup seluruh umat manusia. Kata “baik” dalam KBBI berarti tidak jahat, terhormat (tentang kelakuan, budi pekerti, keturunan dan sebagainya. Baik dapat diartikan untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan siapapun. Dalam Islam sendiri kategori insan baik salah satunya orang yang bertakwa, dimana diperintahkan untuk menjalankan perintah Allah… Selengkapnya »Rindang Seperti Pohon, Tawaduk Bagai Padi

Artikel Rindang Seperti Pohon, Tawaduk Bagai Padi pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
Menjadi manusia yang baik tentu menjadi salah satu tujuan hidup seluruh umat manusia. Kata “baik” dalam KBBI berarti tidak jahat, terhormat (tentang kelakuan, budi pekerti, keturunan dan sebagainya. Baik dapat diartikan untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan siapapun.

Dalam Islam sendiri kategori insan baik salah satunya orang yang bertakwa, dimana diperintahkan untuk menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini dikuatkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 21 yang maknanya “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Namun di dalam praktiknya terkadang menjauhi segala apa yang dilarang belum sepenuhnya terealisasi.

Belajar dari padi, pepatah mengatakan “padi semakin berisi semakin merunduk”. Seseorang yang semakin berilmu, kaya akan pengalaman, bukankah tidak elok apabila memperlihatkan ilmunya dan merasa hebat. Namun bukan berarti kita menutup rapat seluruh ilmu yang dipunyai karena tidak ingin dianggap sombong. Perlu ditelaah kembali hakikat dari pepatah tersebut.

Padi merupakan salah satu sumber daya manusia yang menjadi bahan pokok khususnya Indonesia. Setelah padi dipanen kemudian digiling hingga menjadi beras. Beras dimasak menjadi nasi. Itu berarti, manusia merupakan generasi yang akan menciptakan kehidupan yang terus berkembang. Sebagai manusia yang dapat berpikir kritis gagasan “padi” yang merupakan sumber kehidupan berarti manusia perlu dan terus berkontribusi dalam segala aspek kehidupan.

Hal demikian dapat dipraktikkan secara sederhana melalui hal-hal yang mampu kita lakukan. Jikalau seorang guru, marilah didik murid sebaik mungkin. Jikalau seorang murid, marilah bersungguh-sungguh dalam belajar dan menuntut ilmu serta hendaknya bersikap rendah hati atau tawaduk terhadap guru dan siapapun. Jikalau seorang penulis, marilah menulis yang dapat membawa manfaat.

????  Penyebab Rusaknya Nilai Keikhlasan

Setelah menjadi seseorang yang telah dianggap baik oleh sesama. Tentu bukan tidak mungkin bila masih ada saja sesama yang tidak menyukai. Itu wajar. Gus Dur sendiri dalam kalimat bijaknya pernah berkata “sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan ambil pusing”.

Pun makhluk ciptaan Allah seperti pohon dapat memberi gambaran bagaimana seharusnya seseorang yang berilmu. Sederhana namun bermakna. Sebuah pohon yang tumbuh subur menjulang ke atas tentu tangkainya kuat nan besar, daunnya lebat nan rindang. Semakin ke atas, semakin kencang pula angin yang menerpa. Pepohonan yang kuat dapat bertahan dengan akarnya.

Kehidupan manusia juga demikian. Semakin tinggi puncak kebaikan seseorang semakin tinggi pula ujiannya. Kendati demikian, Allah tidak akan memberi ujian melebihi kekuatan seorang hamba. Pohon yang rindang menjadi tempat berteduh sebagian makhluk disaat hujan lebat, menjadi rumah sebagian makhluk Allah seperti burung. Begitu eloknya manusia dengan segala akhlakul karimah. Rindang seperti pohon nan tawaduk bagai padi. Wallahu’alam bishowab.

sumber : https://tebuireng.online/rindang-seperti-pohon-tawaduk-bagai-padi/

Artikel Rindang Seperti Pohon, Tawaduk Bagai Padi pertama kali tampil pada MADANI TEBUIRENG BINTAN.

]]>
http://madanitebuireng.ponpes.id/rindang-seperti-pohon-tawaduk-bagai-padi/feed/ 0